Mom's Life

Spot Jantung di Hari Minggu

9:09 AM

Mungkin pengalaman aku ini, masih dalam taraf rendah untuk level ketegangan jantung Ibu-Ibu lainnya. Tapi hal ini cukup membuat hatiku ini terbang tinggi dan jatuh seketika.

Sebagian besar para Ibu tentu sering membaca beberapa artikel mengenai banyak hal penanganan cepat untuk anak bila dalam keadaan emergency. Contohnya bagaimana bila anak anda tersedak, bagaimana penolongan pertama bila anak kejang, atau langkah pertama bila anak mimisan dan masih banyak lagi. Jujur kadang si baca seperti itu, membuat kita menjadi parno sendiri ya, dan membatin, bila memang benar terjadi, apa aku bisa ya mengikuti langkah-langkah yang dianjurkan?

Sejak Jumat, anakku Raga mengalami demam, langkah pertama yang aku lakukan adalah memberinya tempra, karena anjuran dapat memberikan 4x sehari, pada waktu itu saya sudah memberikan 3 kali sehari. Di hari Sabtu, panasnya turun, tapi saya sentuh badan nya masih hangat, dan seketika itupun keluarga dekat kami ada yang menikah, dan tidak mungkin kami tidak hadir. Sampai acara selesai panasnya pun mulai naik, dan saya putuskan untuk membawanya ke dokter, dikarenakan hari libur IMLEK beberapa rumah sakit terdekat yang saya tanyakan, poli anak tidak buka, dan saya membawa Raga ke puskesmas terdekat dan dibantu dokter umum.

Kala itu, beliau hanya memberikan obat penurun panas paracetamol dan vitamin. Dan dalam benakku berkata mungkin obat sebelumnya ia tidak mempan. Saat malam hari ia tidurpun, tidurnya tidak nyenyak, dan aku dekappun terasa sekali panas badannya ditubuhku, sambil berdoa 'nak cepat sembuh ya nak'. Malam itupun menjadi malam panjang, karena Raga tidak bisa tidur otomatis sayapun tidak tidur, ia hanya ingin digendong saja dan super rewel. Padahal obat dari Puskesmas tersebut sudah aku berikan. Sampai titiknya saat subuh, bajunya basah keringetan, dan saya gantikan semuanya. Sesaat setelah itu, tangannya kaku, dan kepalanya kebelakang, tidak ada tatapan darinya, ia hanya menutup mata, dan desahan nafasnya terdengar terpenggal-penggal.

Akupun panik, tanpa fikir panjang menggendongnya, membangunkan suamiku dan pergi ke lantai bawah. Pada saat itu, aku sedang meginap di rumah mertuaku, ia pun panik, dan reflect ngambil air zam-zam dan dibasuhkan ke kepala Raga, seketika aku lansung bilang ke suamiku bawa Raga ke rumah sakit, suamikupun langsung menyalakan mobil, dan kita berempat pergi ke UGD rumah sakit terdekat, Raga, aku, suami dan mertuaku.

Didalam perjalanan ke rumah sakit menjadi perjalanan menyeramkan dalam hidupku untuk pertama kalinya, aku berdoa dalam hati, selamatkan anakku Ya Allah, sehatkanlah dia, berikan yang terbaik untuk dirinya. Kala itu Raga hanya lemas sekali, layu dalam dekapanku, tangannya dingin. Terdengar pula shalawat dan doa yang tidak henti-hentinya mertuaku utarakan, yang berakibat, tetesan air mata tidak terbendung lagi dari mataku. Aku mencoba menguatkan diriku sendiri, untuk menghapus air mataku dan tetap fokus kepada anakku. Kudekap erat sekali sangat erat.

Sesampainya di UGD langsung saya ceritakan kronologisnya, dan dokter mengambil langkah pertama dengan memasukan obat pereda dan penurun panas yang dimasukan lewat dubur, saat itu panas Raga menyampai 38,7. Ragapun terlihat lemas dan tertidur saat sampai disana. Dokter mengatakan, ada 2 kemungkinan, bisa ini adalah step/kejang atau ia hanya menggigil. Setelah observasi pertanyaan, karena ia tidak mengalami kejang berlebihan, mata tidak terlihat putih dan lidah tidak keluar, disimpulkan ia menggigil. Saat itu aku mulai tenang. Tetapi dokter menyarankan untuk mengambil sampel darah untuk lebih memastikan, karena sekarang cuaca lagi tidak baik, jangan sampai DB atau lainnya dan kami pun menyetujuinya.

 

Proses pengambilan darah pun tergolong tidak mudah, karena raga tidak bisa diam pasrah begitu saja, seperti orang dewasa yang diambil darahnya pada umumnya. Selain itu nadinya pun sulit dicari, karena bila iya bergerak, nadi akan bergerak pula. Akhirnya dengan proses panjang, suster memanggil orang dari lab, baru setelah itu sampel didapatkan. Kasian sebenarnya melihat tubuh mungilnya disuntik-suntik Jarum, suamiku pun sempat kesal. "Kenapa gak dari awal panggil orang Lab, kalau suster jaga itu tidak bisa" dan aku berusaha menenangkan suamiku, agar tidak ada lagi drama berkelanjutan, aku katakan "Sudahlah, iya juga sudah berusaha maksimal, pintaku menenangkan"

Hasil Lab keluar sekitar satu jam setelahnya, dan jawaban dokter jagapun melegakan, bahwa tidak ada indikasi DB dan ini hanya virus. Anakku pun lebih santai, dan sudah mulai banyak berbicara. Dokter memberikan isprinol untuk virus, tempra tambahan, obat penurun panas yang dimasukan ke dubur untuk jaga-jaga bila menggigil atau terjadi hal seperti sebelumnya. Dan dokter mengatakan bila sampai 2 hari tidak ada perubahan, dimohon untuk ke poli anak terdekat.

Hari Minggupun berlalu, senin berlalu, panas sudah turun, suhu badan sudah seperti biasa, tapi Raga masih super rewel dan manja, maunya gendongan terus, dan Selasa sore keluar bintik di pungung, dada dan perutnya, banyak sekali. Walalupun aku tau itu efek dari demam tinggi, tapi aku tetap khawatir dan membawanya ke dokter anak Raga sedari Bayi.

Setelah Raga dibawa ke dokter anak, beliau melihat hasil Labnya, demam yang dideritanya memang dari virus dan bintik merupakan efek dari demam jadi tidak perlu dikhawatirkan. Dokter ini malah lebih concern terhadap HB Raga yang cenderung rendah, dan menanyakan bagaimana asupan kalsium yang didapat oleh anakku. Aku memang masih full Asi terhadap anakku, dan aku yakin aku bisa sampai anakku umur 2 tahun (24 bulan), sekarang Raga berumur 20 Bulan. Rata-rata anak yang mengkonsumsi Asi memang kekurangan zat besi, maka dari itu Raga dari umur sekitar 7-8 bulan sudah mengkonsumi suplemen penambah zat besi yaitu Sangobion, tetapi jujur aku gak rutin, itu pun sesuai saran dokter. Nah, pada saat itu, dokterku baru menyarakan untuk menambah minum susu formula. Aku sempat kaget, karena aku pernah baca artikel, bahwa lebih baik mengkonsumsi susu UHT dibandingkan susu formula. Tapi suplemen zat besi tetap dilanjutkan, dan dimohon untuk rutin. Dokter juga bilang bahwa banyak penyesuaian yang harus dilakukan.

Sebenarnya aku memang bukan orang yang anti susu formula, tapi kalau ada yang jauh lebih baik kenapa enggak? Toh dulu aku dan adikku juga minum susu formula. Dan setelah melakukan beberapa perdebatan dengan suamiku, aku mencoba mengalah dan ingin mencoba susu formula ke Raga (padahal dalam hatiku juga berkata, minum susu UHT aja Raga ogah-ogahan gimana susu formula?). Setelah beberapa hari dicoba, benar adanya, Raga malah muntah setelah minum susu formula ahahah. Aku hanya senyum menanggapinya, biar suami aku juga dapat melihat. Setelah ini, langkah yang aku lakukan, aku tetap ingin mencoba Raga meminum susu UHT, walau hanya dikit tidak apa ,yang penting diperkenalkan, karena selama ini Alhamdulillah tidak ada efek samping yang merugikan. 

Nah, gimana Ibu-Ibu? cerita saya ini panjang sekali ya. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan ataupun hanya sekedar berbagi pengalaman. Intinya saya masih harus banyak belajar dan membaca lagi, agar semakin siap bila terjadi sesuatu yang emergency. Kuncinya adalah selalu berfikir positif dalam menghadapi berbagai masalah. Jangan lupa kesehatan itu sangat penting ya, lihat anak sakit itu rasanya sedih sekali, sekarang Raga sudah teriak-teriak dan tertawa kembali, Alhamdulillah terima kasih Allah :)


You Might Also Like

1 comments

SUBSCRIBE

Press